Selasa, 23 Desember 2008

Kisah Perkawinan Tanpa Restu Ortu

PERKAWINAN TANPA RESTU ORANG TUA


Suatu kisah yang sangat menyentuh dan bisa dijadikan sebuah pengalaman dalam mengharungi liku-liku kehidupan ini menimpa pada diri sigadis desa, Syarifah. Waktu itu dia masih beranjak remaja, dia dilahirkan dalam lingkungan beragama islam dan kedua orang tuanya merupakan tokoh yang sangat disegani oleh orang sekitarnya. Disamping kaya orang tuanya juga merupakan keturunan darah biru, kalau istilah orang Aceh disebut dengan Said.

Kembali ke kisah masa kecilnya, Syarifah merupakan anak yang paling disayangi oleh kedua orang tuanya. Semenjak Syarifah berumur 5 tahun orang tuanya sangat berperan dalam pendidikannya disamping itu juga Syarifah disekolahlah dan pada malam harinya mengikuti pengajian yang suasananya sangat ketat dan disiplin, sudah banyak penghargaan-penghargaan yang diterima oleh Syarifah. Semua itu berkat jerih payah, usahanya dan juga kerena dorongan, bimbingan orang tua dan guru-gurunya.

Hari demi hari telah dilalui Syarifah dengan semangat yang membara, dengan bergantian waktu tanpa terasa Syarifah kini sudah menjdai mahasiswa di Fakultas yang termuka, disanalah dia mengenal yang namanya cinta. Syarifah berkenalan dengan pemuda yang begitu simpati dan akhirnya mereka saling jatuh cinta, berjanji untuk selalu bersama. Banyak perbedaan-perbedaan yang terjadi diantara mereka, pemuda tersebut berasal dari keluarga yang sederhana dan bukan dari keturunan said. Tapi semua itu bukan penghalang bagi mereka untuk membina tali cinta yang tulus dan abadi untuk selamanya.

Dalam kesehariannya Syarifah masih seperti dulu yang selalu taat beribadah meskipun jauh dari orang tuanya, semenjak kuliah Syarifah kost bersama teman-temannya, secara tidak sengaja Syarifah juga sering ikut-ikutan bergaul seperti teman-temannya. Wajarlah karena Syarifah dulu merupakan anak yang merasa selalu diawasi orang tuanya, kini Syarifah memanfaatkan waktu semaksimal mungkin supaya apa yang di impi-impikan menjadi kenyataan apalagi sekarang seseorang telah hadir dalam kehidupannya.


Masa libur telah tiba dan Syarifah pulang ke kampungnya dengan membawa satu harapan, yaitu dia ingin menyampaikan kisah kasihnya dengan pemuda yang dicintainya dan harapannya semoga orang tuanya dapat menerima dan memberi restu kepada mereka. Orang tua Syarifah menyambut kedatangan anaknya dengan sangat gembira karena sudah lama tidak memandang anak semata wayangnya itu.

Tiga hari sudah berlalu dan Syarifah memberanikan diri untuk menceritakan tentang hubungannya dengan pemuda yang selama ini telah mengganggu hari-harinya, tapi harapan Syarifah tidak seindah yang dibayangkan. Kedua orangnya tidak merestui hubungan Syarifah dengan pemuda tersebut, segala cara sudah Syarifah coba untuk meyakinkan kalau bahwa laki-laki tersebut adalah laki-laki yang baik dan bisa menanggung kehidupan mereka nanti.

Orang tua Syarifah tetap pada pendiriannya dan bahkan yang lebih menyakitkan bagi Syarifah saat orang tuanya mengatakan bahwa Syarifah telah dijodohkan dengan laki-laki yang sama derajatnya, dengan mengiba Syarifah memohon supaya orang tuanya untuk menggagalkan perjodohan itu dan mngizinkan Syarifah memilih laki-laki yang dicintainya. Tetapi orang tuanya tidak menghiraukan bahkan sudah menetapkan tanggal pernikahannya.

Masa liburnya sudah habis dan Syarifah kembali bergabung dengan teman-temannya, tidak ada lagi semangat dalam hidupnya dan kadang-kadang Syarifah sering menghindar bila si pemuda yang dicintainya datang ke tempat kots. Teman-teman Syarifah juga bingung dengan perubahan Syarifah yang begitu mendadak, mereka tidak pernah lagi mendengar tawa dan candanya Syarifah, bila mereka bertanya kenapa Syarifah cuma tersenyum sambil berlalu

Pada suatu hari Syarifah tidak bisa menghindar dari pemuda tersebut, ketika Syarifah pulang kuliah pemuda tersebut langsung menarik tangan Syarifah dan membawanya pada suatu tempat. Ditanyainya tentang perubahan Syarifah akhir-akhir ini, dengan mata yang mulai berkaca-kaca Syarifah mulai menceritakan semuanya apa yang telah disampaikan kepada orang tuanya dan apa yang disampaikan orang tuanya kepada Syarifah. mendengar itu semua pemuda tersebut sedikit terpaku dan memandangi Syarifah dengan penuh cinta kasih, diberinya semangat kepada Syarifah bahwa semua ini bukan untuk dihindari tapi harus dijalani dan mencari jalan cara mengatasinya. Syarifah sedikit terhibur mendengar nasehat-nasehat dari kekasihnya itu, mereka berjanji akan selalu bersama biarpun orang tuanya tidak merestui hubungan mereka. Segala macam cara akan mereka lakukan untuk mempertahankan keutuhan cinta kasih mereka biarpun harus mengorbankan perasaan mereka sendiri ataupun orang lain.

kedua sijoli yang tidak bisa dipisahkan lagi akhirnya menikah dibawah tangan dan orang tua Syarifah tidak tahu dengan semua ini, hari-hari yang mereka lalui selalu penuh dengan tawa riang dan selalu saling mengisi. Syarifah tidak menuntut banyak dari suaminya yang pekerjaannya tidak menentu, apa yang dibawa pulang itu yang Syarifah terima. Syarifah tidak pernah mengeluh karena sering kekurangan karena dia tahu ini resiko yang harus mareka jalani.

Tiba pada suatu hari Syarifah bersama dengan suaminya pulang ke kampung menjumpai orang tua Syarifah karena walau bagaimanapun pekawinan mereka harus ada restu juga, tapi apa yang terjadi tidaklah seindah yang dibayangkan, orang tua Syarifah tetap tidak merestui perkawinan mereka, yang lebih menyakitkan lagi Syarifah tidak diterima lagi oleh orang tuanya dan mengusir dari rumah. Dengan perasaan yang tidak menentu Syarifah bersama suaminya meninggalkan rumah orang tuanya dan kembali kerumah idaman mereka.

Nasib manusia tidak bisa diduga, begitu halnya dengan Syarifah. Berkat jerih payah dan pengorbanannya akhirnya Syarifah dapat menyelesaikan kuliah dengan lancar dan usaha suaminyapun semakin berkembang. Mereka bersyukur yang tak terhingga kepada Allah SWT. atas apa yang mereka terima selama ini. meskipun mereka tergolong orang kaya tapi mereka tetap tidak melupakan teman-teman seperjuangan dulu dan mereka sering mengadakan pengajian-pengajian dirumah, menyantuni anak yatim dan amalan-amalan yang lainnya yang bersifat sosial.

Dua tahun perkawinan mereka sudah berlalu dan mereka semakin bahagia ketika simungil hadir ditengah-tengah mereka, bayi perempuan yang lucu. Syarifah bersama suaminya mengurus dan membesarkan buah hati mereka dengan penuh tanggung jawab, Syifa itulah nama yang diberikan kepada sibayi mungil itu. Kehadiran Syifa membawa arti yang sangat mendalam bagi Syarifah dan suaminya, sempat mereka berfikir untuk membawa Syifa ke rumah orang tua Syarifah tapi mereka takut akan terulang lagi peristiwa yang dulu terjadi. Biarlah sang waktu yang menentukan kapan mereka diterima kembali orang tuanya.

Berita tentang keberhasilan Syarifah dan suaminya sudah terdengar sampai ke orang Syarifah, mereka tidak percaya bahwa perkawinan tanpa restu juga dapat membuahkan hasil yang baik seperti yang terjadi dengan perkawinan Syarifah. Mereka merenungi apa yang selama ini mereka lakukan terhadap Syarifah, timbul sesal dihati tapi apa yang harus diperbuat selain tabah menerima kenyataan ini. Mau menemui Syarifah ada rasa malu dihati tapi mereka selalu merindukan Syarifah dan ingin memeluk cucu mereka, mungkin inilah yang harus mereka terima atas keegoan mereka dulu yang sewenang-wenang terhadap Syarifah.

Demikianlah kisah sedih yang menimpa Syarifah hingga saat ini belum menemukan titik temu dengan orang tuanya, semoga kisah ini menjadi I'tibar bagi kita semua terutama bagi pemuda-pemuda yang cinda kasihnya tidak direstui orang tuanya supaya tidak salah melangkah dalam menentukan pilihan, dan bagi orang tua juga mampu memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya supaya anak juga tidak mengambil jalannya sendiri.

Saya selaku penulis mohon maaf bila yang telah saya tulis mungkin ada sedikit perbadaan dari yang sebenarnya apa yang dialami Syarifah dan suaminya. Harapan saya semoga tabir ini akan segera berlalu dan Syarifah dapat diterima kembali oleh orang tuanya dan melupakan apa yang telah terjadi dulu dengan menyongsong hari depan yang lebih cerah. Amin Ya Rabbal Alamin….


Penulis


J U L I A




maaf kak LIA aku mohon izin ngepost tulisan kakak tanpa ada maksud tertentu

Laskar Pelangi Dan Fenomena Pendidikan Kita

Laskar Pelangi Dan Fenomena Pendidikan Kita
Posted by Crew Benih 16 October, 2008

Mendengar kata ‘Laskar Pelangi’, benak kita tentu akan tertuju pada novel tetralogi karangan Andrea Hirata yang rilis tiga tahun lalu. Suksesnya Laskar Pelangi yang mengangkat kehidupan kaum pinggiran nan miskin dan terlupakan di Pulau Belitong (sekarang Provinsi Bangka Belitung) menjadikan tokoh Ikal, Lintang, Mahar dkk sebagai pahlawan-pahlawan baru menggantikan tokoh `si Cowok Idaman’ dalam kebanyakan karya teenlit atau tokoh `Nayla si Trauma Seks’dalam kebanyakan sastra kelamin saat ini. Maka tak heran, bila sejumlah kritikus sastra memandang Laskar Pelangi sebagai fenomena baru, baik di ranah kesusastraan maupun perfilman nasional.Dalam latar kisah sekolah rekaan Andreainilah kita akan menemukan representasi mengkhawatirkan tentang praktik pendidikan formal di Indonesia yang kini tengah menuju pada `kematiannya’ . PendidikanYang Mana

Sejatinya, pendidikan formal bertujuan membawa manusia keluar dari kungkungan kebodohan (emansipatoris) . Dengan menguasai ilmu pengetahuan secara sistematis, rasional dan bersifat ilmiah, manusia dituntut untuk meninggalkan segala sumber pengetahuan manusia di masa lalu seperti mitos dan tradisi yang tidak rasional dan takhayul.

Maka dengan segala intelektualitas dan pengetahuannya itu, seorang manusia terdidik diharapkan mampu mendapatkan pengetahuan yang lebih baik tentang dunia dan mencapai kehidupan yang lebih baik baginya di masa depan. Hal inilah yang direpresentasikan Andrea dalam Laskar Pelangi lewat tuturan tokoh orangtua Lintang pada kalimat berikut:

“Ayahnya . . . menganggap keputusan menyekolahkan Lintang adalah keputusan yang tepat . . . ia berharap Lintang dapat mengeluarkan mereka dari lingkaran kemiskinan yang telah lama mengikat mereka hingga sulit bernapas.“(Laskar Pelangi, halaman 95)

Maksud kalimat ini tentu sangat jelas. Tokoh ayah dan ibu Lintang percaya bahwa dengan menyekolahkan anaknya tersebut, Lintang akan membawa nasib keluarganya menjadi lebih baik di masa depan. Semangat Lintang bersekolah juga digambarkan dengan menempuh perjalanan sejauh empat puluh kilometer dari rumahnya di Tanjong Kelumpang menuju sekolah menggunakan sepeda sejak subuh hari.

Tempat Lintang dan kawan-kawannya bersekolah pun direpresentasikan dengan ideal oleh Andrea. Di sekolah yang mirip `gudang kopra’ itu, pendidikan yang diajarkan SD Muhammadiyah tidak semata berdasarkan standar kurikulum nasional, tetapi juga pendidikan moral, budi pekerti dan agama.

Simak kutipan berikut yang merupakan komentar tokoh Ikal mengenai Bu Mus:

`Beliau sendiri yang menyusun silabus pelajaran Budi Pekerti dan mengajarkan kepada kami sejak dini pandangan-pandangan dasar moral, demokrasi, hukum, keadilan, dan hak-hak asasi . . . Kami diajarkan menggali nilai luhur di dalam diri sendiri agar berperilaku baik karena kesadaran pribadi. Materi pelajaran Budi Pekerti yang hanya diajarkan di sekolah Muhammadiyah sama sekali tidak seperti kode perilaku formal yang ada dalam konteks legalitas institusional seperti sapta prasetya atau pedoman-pedoman pengamalan lainnya.‘(LP, hal 30-31)

Dari kutipan di atas kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa memang kualitas seseorang yang berpendidikan tidak hanya diukur dengan nilai ujian dan angka di rapornya. Pendidikan yang baik mestilah menyeimbangkan pelajaran ilmu pasti dengan tuntunan agama, perilaku moral dan budi pekerti. Dan pendidikan model begini tentu akan mencetak manusia-manusia yang tak hanya encer otaknya, tapi juga memiliki mentalitas yang baik di kepribadiannya.

Kawan-kawan pembaca tentu akan setuju dengan saya bahwa memang begitulah seharusnya pendidikan formal dipraktikkan. Dan Andrea, lewat fiksinya tengah mengimajinasikan sebuah sekolah dengan konsep pendidikan ideal yang sejalan dengan semangat emansipatoris tadi.

Andrea Hirata dan Masalah Pendidikan

Adalah Iwan Simatupang, seorang tokoh sastra angkatan 70 yang menghabiskan hari-hari terakhirnya di kota Bogor, mengatakan demikian: `Pengarang adalah produk kultural tanah airnya. Setiap karyanya, perbuatannya, pemikirannya, secara inhaerent memantulkan kembali pertautan dirinya dengan tanah air’ (2004:337)

Dalam kata lain, kehidupan seorang pengarang akan selalu dipengaruhi lingkungan sosial-budaya dan bangsa dimana ia hidup. Sehingga apapun persoalan yang tertuang dalam karyanya kelak, seringkali merupakan hasil refleksi pengetahuan dan pengalaman hidupnya atas lingkungannya.

Maka di sinilah saya hendak menempatkan Andrea sebagai seorang pengarang yang tentu tak lepas dari pengaruh lingkungannya. Khususnya mengenai cara pandang Andrea terhadap permasalahan pendidikan di Indonesia, yang kemudian direpresentasikanny a dalam bentuk fiksi lewat Laskar Pelangi.

Di banyak referensi, kita akan menemui keterangan bahwa Andrea memiliki minat terhadap sains dan dunia pendidikan. Alih-alih sebagai novelis, ia mengaku lebih suka mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi. Maka tak heran bila dalam Laskar Pelangi terdapat banyak kalimat dengan `bumbu-bumbu’ ilmiah yang dipadukannya dengan kisah-kisah sederhana nan memikat.

Menyimak halaman persembahan dalam buku Laskar Pelangi yang ditujukannya untuk dua orang guru masa kecilnya (Muslimah Hafsari dan Harfan Effeny Noor), tampak bahwa dua orang ini tak sekedar tokoh fiksi Laskar Pelangi dalam imajinasi Andrea, tapi juga ada dalam pengetahuan dan pengalaman hidup Andrea sebagai pengarang.

Maka bisa ditafsirkan pula bahwa Andrea merupakan anak ideologis hasil pendidikan ideal ala SD Muhammadiyah di Belitong. Tak keliru bila kita paham bahwa pendidikan ideal tersebut memang benar-benar ada di kehidupan nyata, khususnya kehidupan yang dialami Andrea.

Berangkat dari sinilah, saya menemukan fakta mengkhawatirkan tentang wajah pendidikan formal bangsa kita dewasa ini yang kian jauh dari representasi Andrea tentang pendidikan ideal. Alih-alih menjalankan fungsi emansipatorisnya, wajah pendidikan formal yang dipraktikkan bangsa ini adalah wajah yang bertopeng dalam kepura-puraan dan sangat menakutkan.

Matinya Pendidikan Kita

Sebelum kita melanjutkan bahasan berikut, perlu dipahami kawan-kawan pembaca bahwa kata ‘mati’ yang saya gunakan di sini bukanlah kematian secara fisik, namun ia merupakan metafora yang saya gunakan untuk melukiskan kecenderungan di mana fungsi emansipatoris dalam pendidikan kian menjadi tumpul.

Ketumpulan ini bisa kita lihat dari kecenderungan institusi/ penyelenggara pendidikan di Indonesia kini tengah gencar memproduksi lulusan yang link and match dengan pasar dunia kerja. Sehingga dalam jenjang waktu pendidikan yang singkat, diharapkan para lulusannya bisa memiliki skill praktis dan dengan mudah diserap pasar tenaga kerja.

Jutaan pelajar lulusan sekolah menengah juga kini tengah mengimpi-impikan dapat di fakultas favorit, jenjang kuliah yang singkat,dan setelah lulus mudah mendapatkan pekerjaan. Langkah ini sekilas memang terlihat strategis, mengingat Indonesia hari ini masih dibebani dengan persoalan tingginya angka pengangguran dan kemiskinan.

Namun saya sebut ini sebagai ketumpulan fungsi emansipatoris pendidikan yang kelak akan berujung pada matinya pendidikan, sebab ia membuat kita lupa bahwa sekolah dibangun untuk menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan, dan bukan sekedar untuk mempermudah manusia mendapatkan gelar, pekerjaan, jabatan di perusahaan atau pun bergaji besar. Maka tak heran pula bahwa biaya yang dibutuhkan seseorang untuk mengenyam pendidikan, tak bisa dibilang murah.

Kini kian jelas bahwa, pendidikan emansipatoris yang tadinya bertujuan membawa manusia keluar dari kungkungan kebodohan dan mencapai budi pekerti yang baik,kini mulai berbelok ke arah yang pragmatis nan materialistis.

Praktik inilah yang telah lama menyusup ke dalam ruang-ruang kelas kita, catatan-catatan pelajaran kita, buku-buku praktikum yang wajib kita baca, hingga menjangkit ke pola pikir kita yang memandangfungsi kegiatan pendidikan bukan lagi sebagai tindakan yang emansipatoris, tetapi terkapitalisasi untuk sekedar mencari duit dan menjadi robot-robot pekerja yang baik.

Sekali lagi saya tekankan betapa konsep pendidikan yang link and match seperti ini sebagai indikasi matinya pendidikan, sebab lahan kerja yang kelak menyerap tenaga kerja berpendidikan bertujuan pada orientasi bisnis perusahaan (baca: kapitalis) semata, dan bukan berorientasi pada perbaikan struktur dan kultural masyarakat Indonesia. Terlebih lagi, pendidikan link and match model begini, menurut hemat penulis akan semakin menghambat mental kepeloporan, kepemimpinan, kemanusiaan, spiritualitas, dan mentalitas-mentalit as generasi muda Indonesia masa depan.

Pendidikan yang seharusnya dibangun berlandaskan nilai-nilai objektivitas, keilmiahan (scientific), dan kebijaksanaan (virtue) sebagai nilai dasar dalam ilmu pengetahuan, kini dimuati oleh nilai-nilai komersial sebagai ajang pencarian keuntungan (profit) semata. Inilah wajah pendidikan kita yang lebih tunduk pada kekuasaan kapital daripada kebenaran ilmiah dan moral kebangsaan.

Penutup

Apa yang terungkap pada uraian di atas memang terasa ganjil, problematis dan ironis bagi kelangsungan generasi muda intelektual kita saat ini yang membutuhkan kejujuran dunia ilmu pengetahuan. Betapa tidak, kita semua –mau tak mau– adalah bagian dari anak-anak peradaban yang terlanjur lahir dalam sebuah pendangkalan, pemassalan dan komersialisme sebagai praktik pendidikan mutakhir bangsa ini.

Drama matinya pendidikan inilah yang saya tangkap dari pengalaman saya ketika membaca Laskar Pelangi. Sungguh-sungguh sebuah drama yang ditutup dengan ironi ketika tokoh Ikal bertemu dengan Lintang pada dua belas tahun kemudian. Lintang dengan kecerdasan mengagumkan seorang anak pesisir miskin, mesti mengujungkan nasibnya sebagai supir truk pasir di Belitong.

Walhasil, membaca Laskar Pelangi juga membawa saya hanyut dalam perasaan yang sama seperti yang tokoh Ikal ucapkan di penghujung novel ini:

`Dan kata-kata itu semakin menghancurkan hatiku, maka sekarang aku marah, aku kecewa pada kenyataan begitu banyak anak pintar yang harus berhenti sekolah karena alasan ekonomi. Aku mengutuki orang-orang bodoh sok pintar yang menyombongkan diri, dan anak-anak orang kaya yang menyia-nyiakan kesempatan pendidikan.‘ (LP,hal 472)

Maka sebagai penutup, dengan ditulisnya esai ini saya memang tidak sedang mengajukan pemikiran jitu nan tokcer demi mengatasi permasalahan pendidikan tersebut. Esai ini lebih berniat menjadi apresiasi bagi Andrea dan para sastrawan lainnya yang tak hanya lihat dalam berkata-kata, tapi juga peka dengan permasalahan dan kondisi zamannya.

Mungkin juga ini saatnya kita meninggalkan gaya menulis kita yang melulu berkisah tentang pencarian diri, cinta picisan, ataupun seks. Mari menulis seperti Andrea yang menulis novel tak hanya untuk diri sendiri dan sekedar meraih keuntungan materi, namun juga berkarya untuk membangkitkan kesadaran pembacanya akan perkembangan pendidikan di Indonesia.

Matinya pendidikan di Indonesia mungkin baru kita rasakan sebagian kecil saja, tapi jelas bahwa ia patut untuk diwacanakan secara luas. Kecuali pada suatu nanti di masa depan, siap-siap saja kita dengar lonceng kematian ilmu pengetahuan dan praktik pendidikan berkumandang; lonceng kematian yang dikumandangkan sebagai tanda kemenangan pasar atas wafatnya rasionalitas intelektual bangsa ini.

dikutip dari zainurie

Populer : 9% [?]

Categories : Tokoh Tags : akan, andrea hirata, benak, kalimat, karangan, kemiskinan, kisah, lalu, laskar pelangi, mampu, masa depan, miskin, mitos, nasib, orangtua, rasional, semangat, sulit, tiga, tuturan

Kecanduan Hypnoparenting

Kecanduan Hypnoparenting
4

02

2008
Di saat orang tua mulai putus asa dengan berbagai problem yang dihadapi dalam mengasuh anak-anak mereka, beberapa waktu terakhir ini santer istilah hypnoparenting didengar. Problem anak-anak seperti malas belajar, bosan sekolah, prestasi menurun, anak kurang nafsu makan, suka menggigit jari, ngompol dan masalah-masalah lain tentang kebiasaan-kebiasaan yang tidak dikehendaki orang tua tetapi menjangkiti anak, seakan menjadi mudah diselesaikan ketika tawaran hypnoterapi diberikan. Sebenarnya apa hypnoparenting itu?

Dulu, berbagai jenis terapi psikologik banyak dikenalkan untuk menangani masalah-masalah klinis psikologi atau psikiatri. Namun untuk saat ini, berbagai kasus non klinis (baca: belum gawat-gawat amat lah..) psikologi pun mulai banyak diupayakan penyelesaiannya melalui terapi semacam hypnosa yang nota bene salah satu jenis metode psikiatrik yang “serius.” Apakah ini bisa disebut kesadaran atau malah suatu gejala baru yang disebut euphoria hypnosa dalam program parenting?

Ada yang yang mengatakan, saat ini, berbagai informasi tentang parenting atau cara menjadi orang tua, penting dimiliki setiap orang tua yang ingin mendidik anak dengan cara yang efektif, termasuk ilmu hipnoparenting. Hypnotic parenting atau hypnoparenting terdiri dari kata hypnosis (berasal dari kata Yunani ”hypnos” yang berarti tidur) dan parenting. Jadi Hipnoparenting adalah aplikasi ilmu hypnotherapy untuk parenting (ilmu mendidik dan membesarkan anak dengan baik).

Sebenarnya, fenomena hipnosa sering kita alami tanpa kita sadari. Misalnya saat kita membayangkan saat kita haus, kita diminta minum es jeruk nipis tanpa diberi gula? hmm .. tentu kita akan langsung mengkerut membayangkan asamnya rasa es jeruk itu dan air liur kita menjadi lebih encer. Mengapa terjadi? Sebenarnya jeruknya kan tidak ada, hanya imajinasi saja. Tetapi mengapa tubuh kita bereaksi dengan cara yang sama ketika jeruknya benar-benar ada ? Itulah hypnosis. Menurut Ariesandi (ahli hipnoterapi), Otak kita menangkap gambaran mental dari jeruk, dan ketika kita membayangkannya dengan penuh perasaan dan konsentrasi maka otak menganggap hal itu adalah suatu kenyataan dan memerintahkan tubuh untuk bereaksi dengan cara yang sama saat kita dulu berhadapan dengan es jeruk nipis yang sesungguhnya.

Menurut Rachel Copelan Ph.D, proses hipnosis akan terjadi bila dalam komunikasi terdapat unsur-unsur/komponen dan atau gabungan unsur-unsur sebagai berikut:

Motivation (keinginan kuat akan sesuatu)
Relaxation (santai, rileks)
Concentration (konsentrasi, fokus terhadap sesuatu)
Imagination (imaginasi terhadap sesuatu)
Autosuggestion (perintah)
Peak Emotion (emosi tinggi)
Repetition (pengulangan)

dipost...dari blog Zahrah Al-Munawwarah

Islam dan Pendidikan

ISLAM DAN PENDIDIKAN
18

03

2008
Pendidikan adalah sebuah media bagi terjadinya transformasi nilai dan ilmu yang berfungsi sebagai pencetus corak kebudayaan dan peradaban manusia. Pendidikan bersinggungan dengan upaya pengembangan dan pembinaan seluruh potensi manusia (ruhaniah dan jasadiyah) tanpa terkecuali dan tanpa prioritas dari sejumlah potensi yang ada. Dengan pengembangan dan pembinaan seluruh potensi tersebut, pendidikan diharapkan dapat mengantarkan manusia pada suatu pencapaian tingkat kebudayaan yang yang menjunjung hakikat kemanusiaan manusia.
Pendidikan berwawasan kemanusiaan memberikan pengertian bahwa pendidikan harus memandang manusia sebagai subyek pendidikan, bukan sebagai obyek yang memilah-milah potensi (fitrah) manusia. Artinya, pendidikan adalah suatu upaya memperkenalkan manusia akan eksistensi dirinya, baik sebagai diri pribadi yang hidup bersama hamba Tuhan yang terikat oleh hukum normatif (syariat) dan sekaligus sebagai khalifah di bumi.
Konsep pendidikan yang mengenyampingkan dasar-dasar tersebut, adalah pendidikan yang akan mencetak manusia-manusia tanpa kesadaran etik, yang pada akhirnya melahirkan cara pandang dan cara hidup yang tidak lagi konstruktif bagi tegaknya nilai-nilai kemanusiaan. Untuk itu perlu adanya konseptualisasi ilmu dalam pendekatan filsafati yang merupakan kerangka dasar dalam upaya memperjelas dan meluruskan cara pandang manusia, baik mengenai dirinya, alam lingkungan, maupun terhadap campur tangan Allah SWT.
Pada dasarnya, Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan pijakan yang jelas tentang tujuan dan hakikat pendidikan, yakni memberdayakan potensi fitrah manusia yang condong kepada nilai-nilai kebenaran dan kebajikan agar ia dapat memfungsikan dirinya sebagai hamba (QS.As-Syams :8 ; QS. Adz Dzariyat:56). Oleh karena itu, pendidikan berarti suatu proses membina seluruh potensi manusia sebagai makhluk yang beriman dan bertakwa, berfikir dan berkarya, untuk kemaslahatan diri dan lingkungannya.
Islam adalah panduan hidup manusia di dunia dan akhirat yang bukan sekedar agama seperti dipahami selama ini, tetapi meliputi seluruh aspek dam kebutuhan hidup manusia. Ilmu dalam Islam meliputi semua aspek ini yang bisa disusun secara hirarkis dari benda mati, tumbuhan, hewan, manusia hingga makhluk gaib dan puncak kegaiban. Susunan ilmu tentang banyak aspek ini bisa dikaji dari pemikiran Islam. Mengingat seluruh tradisi keagamaan dalam sejarah umat manusia mulai dari nabi Adam diklaim sebagai Islam dan seluruh alam natural dan humanitas sebagai ayat-ayat Tuhan, maka seluruh ilmu tentang hal ada, merupaka ilmu tentang ayat-ayat Tuhan dan Islam itu sendiri.
Sepanjang sejarah otentik Islam, ilmu pengetahuan dan teknologi bersumber dari dua bentuk wahyu, yakni ayat-ayat Alqur’an dan ayat-ayat kauniyah (sunnatullah). Wahyu pada ranah pertama dipahami dengan menafsirkan teks secara eksplanatif, dan wahyu ranah kedua dipahami dengan melakukan deskripsi, eksplorasi dan ekspperimental secara sistematis, lalu keduanya disatukan di dalam filsafat dengan segala tingkatannya. Al-Qur’an sendiri memberikan informasi tentang wahyu Tuhan yang telah diturunkan sejak masa Nabi Adam. Diperkirakan masa Yunani yang memproduksi tradisi filsafat awal berlangsung sezaman dengan turunnya Zabur kepada Nabi Daud dan Taurot kepada Nabi Musa (A. Munir Mulkhan, 2002)
Dalam kesajarahan, Islam pernah membuktikan diri sebagai umat yang memiliki peradaban gemilang dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengungguli kejayaan Eropa pada masa lalu. Islam telah mewariskan tokoh ilmuwan besar seperti Al Jabir, Al Khawarizmi, Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Al Kindi dan lainnya. Oleh karenanya, keharusan kembali melihat khazanah dan etos keilmuan di masa lalu itu menjadi salah satu penekanan, mengingat khazanah pengetahuan Islam masa lalu yang kaya dengan semangat inklusivismenya dan juga kekayaan nuansa spiritual. Sayangnya, hal itu kurang mendapat apresiasi berimbang dalam dunia ilmiah akademik dewasa ini. Tekanan imperialisme epistemologi dari pengetauan Barat Modern yang kini telah mewabah, dirasakan cukup kuat menjebak dan menggiring kehidupan intelektual dan akademik, secara perlahan tapi pasti dapat melalaikan apa yang yang telah menjadi kekayaan intlektual umat Islam masa lalu
Ada banyak sebab mengapa Islam belum mampu membangun kerangka paradigma yang lain untuk mengenyahkan imperialisme paradigma pengetauan Barat Modern, diantaranya, apresiasi terhadap khazanah intelektual Islam lama, masih berkutat dan berputar-putar pada produk jadi (Amin Abdullah, 1995) ketimbang pada etos keilmuan terutama metodologi yang dikembangkan oleh para pemikir muslim masa lalu. Selain itu, membangun paradigma pengetahuan Islam yang terpadu akan mengalami kesulitan manakala masih terdapat sikap dikotomis di kalangan umat yang memisahkan ilmu-ilmu agama (wilayah naqliyah) dengan ilmu-ilmu umum (wilayah ‘aqliyah).
Untuk itu diperlukan konseptualisasi ilmu dalam pendidikan, yang menawarkan adanya ilmu naqliyah yang melandasi semua ilmu aqliyah, sehingga diharapkan dapat mengintegrasikan antara akal dan wahyu, ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu agama dalam proses pendidikan. Sehingga, melalui upaya tersebut dapat merealisasikan proses memanusiakan manusia sebagai tujuan pendidikan, yaitu mengajarkan, mengasuh, melatih, mengarahkan, membina dan mengembangkan seluruh potensi peserta didik dalam rangka menyiapkan mereka merealisasikan fungsi dan risalah kemanusiaannya di hadapan Allah SWT, yaitu mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dan menjalankan misi kekhalifahan di muka bumi, sebagai makhluk yang berupaya mengiplementasikan nilai-nilai ilahiyah dengan memakmurkan kehidupan dalam tatanan hidup bersama dengan aman, damai dan sejahtera.

Islam dan Pendidikan

ISLAM DAN PENDIDIKAN
18

03

2008
Pendidikan adalah sebuah media bagi terjadinya transformasi nilai dan ilmu yang berfungsi sebagai pencetus corak kebudayaan dan peradaban manusia. Pendidikan bersinggungan dengan upaya pengembangan dan pembinaan seluruh potensi manusia (ruhaniah dan jasadiyah) tanpa terkecuali dan tanpa prioritas dari sejumlah potensi yang ada. Dengan pengembangan dan pembinaan seluruh potensi tersebut, pendidikan diharapkan dapat mengantarkan manusia pada suatu pencapaian tingkat kebudayaan yang yang menjunjung hakikat kemanusiaan manusia.
Pendidikan berwawasan kemanusiaan memberikan pengertian bahwa pendidikan harus memandang manusia sebagai subyek pendidikan, bukan sebagai obyek yang memilah-milah potensi (fitrah) manusia. Artinya, pendidikan adalah suatu upaya memperkenalkan manusia akan eksistensi dirinya, baik sebagai diri pribadi yang hidup bersama hamba Tuhan yang terikat oleh hukum normatif (syariat) dan sekaligus sebagai khalifah di bumi.
Konsep pendidikan yang mengenyampingkan dasar-dasar tersebut, adalah pendidikan yang akan mencetak manusia-manusia tanpa kesadaran etik, yang pada akhirnya melahirkan cara pandang dan cara hidup yang tidak lagi konstruktif bagi tegaknya nilai-nilai kemanusiaan. Untuk itu perlu adanya konseptualisasi ilmu dalam pendekatan filsafati yang merupakan kerangka dasar dalam upaya memperjelas dan meluruskan cara pandang manusia, baik mengenai dirinya, alam lingkungan, maupun terhadap campur tangan Allah SWT.
Pada dasarnya, Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan pijakan yang jelas tentang tujuan dan hakikat pendidikan, yakni memberdayakan potensi fitrah manusia yang condong kepada nilai-nilai kebenaran dan kebajikan agar ia dapat memfungsikan dirinya sebagai hamba (QS.As-Syams :8 ; QS. Adz Dzariyat:56). Oleh karena itu, pendidikan berarti suatu proses membina seluruh potensi manusia sebagai makhluk yang beriman dan bertakwa, berfikir dan berkarya, untuk kemaslahatan diri dan lingkungannya.
Islam adalah panduan hidup manusia di dunia dan akhirat yang bukan sekedar agama seperti dipahami selama ini, tetapi meliputi seluruh aspek dam kebutuhan hidup manusia. Ilmu dalam Islam meliputi semua aspek ini yang bisa disusun secara hirarkis dari benda mati, tumbuhan, hewan, manusia hingga makhluk gaib dan puncak kegaiban. Susunan ilmu tentang banyak aspek ini bisa dikaji dari pemikiran Islam. Mengingat seluruh tradisi keagamaan dalam sejarah umat manusia mulai dari nabi Adam diklaim sebagai Islam dan seluruh alam natural dan humanitas sebagai ayat-ayat Tuhan, maka seluruh ilmu tentang hal ada, merupaka ilmu tentang ayat-ayat Tuhan dan Islam itu sendiri.
Sepanjang sejarah otentik Islam, ilmu pengetahuan dan teknologi bersumber dari dua bentuk wahyu, yakni ayat-ayat Alqur’an dan ayat-ayat kauniyah (sunnatullah). Wahyu pada ranah pertama dipahami dengan menafsirkan teks secara eksplanatif, dan wahyu ranah kedua dipahami dengan melakukan deskripsi, eksplorasi dan ekspperimental secara sistematis, lalu keduanya disatukan di dalam filsafat dengan segala tingkatannya. Al-Qur’an sendiri memberikan informasi tentang wahyu Tuhan yang telah diturunkan sejak masa Nabi Adam. Diperkirakan masa Yunani yang memproduksi tradisi filsafat awal berlangsung sezaman dengan turunnya Zabur kepada Nabi Daud dan Taurot kepada Nabi Musa (A. Munir Mulkhan, 2002)
Dalam kesajarahan, Islam pernah membuktikan diri sebagai umat yang memiliki peradaban gemilang dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengungguli kejayaan Eropa pada masa lalu. Islam telah mewariskan tokoh ilmuwan besar seperti Al Jabir, Al Khawarizmi, Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Al Kindi dan lainnya. Oleh karenanya, keharusan kembali melihat khazanah dan etos keilmuan di masa lalu itu menjadi salah satu penekanan, mengingat khazanah pengetahuan Islam masa lalu yang kaya dengan semangat inklusivismenya dan juga kekayaan nuansa spiritual. Sayangnya, hal itu kurang mendapat apresiasi berimbang dalam dunia ilmiah akademik dewasa ini. Tekanan imperialisme epistemologi dari pengetauan Barat Modern yang kini telah mewabah, dirasakan cukup kuat menjebak dan menggiring kehidupan intelektual dan akademik, secara perlahan tapi pasti dapat melalaikan apa yang yang telah menjadi kekayaan intlektual umat Islam masa lalu
Ada banyak sebab mengapa Islam belum mampu membangun kerangka paradigma yang lain untuk mengenyahkan imperialisme paradigma pengetauan Barat Modern, diantaranya, apresiasi terhadap khazanah intelektual Islam lama, masih berkutat dan berputar-putar pada produk jadi (Amin Abdullah, 1995) ketimbang pada etos keilmuan terutama metodologi yang dikembangkan oleh para pemikir muslim masa lalu. Selain itu, membangun paradigma pengetahuan Islam yang terpadu akan mengalami kesulitan manakala masih terdapat sikap dikotomis di kalangan umat yang memisahkan ilmu-ilmu agama (wilayah naqliyah) dengan ilmu-ilmu umum (wilayah ‘aqliyah).
Untuk itu diperlukan konseptualisasi ilmu dalam pendidikan, yang menawarkan adanya ilmu naqliyah yang melandasi semua ilmu aqliyah, sehingga diharapkan dapat mengintegrasikan antara akal dan wahyu, ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu agama dalam proses pendidikan. Sehingga, melalui upaya tersebut dapat merealisasikan proses memanusiakan manusia sebagai tujuan pendidikan, yaitu mengajarkan, mengasuh, melatih, mengarahkan, membina dan mengembangkan seluruh potensi peserta didik dalam rangka menyiapkan mereka merealisasikan fungsi dan risalah kemanusiaannya di hadapan Allah SWT, yaitu mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dan menjalankan misi kekhalifahan di muka bumi, sebagai makhluk yang berupaya mengiplementasikan nilai-nilai ilahiyah dengan memakmurkan kehidupan dalam tatanan hidup bersama dengan aman, damai dan sejahtera.